Monthly Archives: Oktober 2018

0 40

Tumpang, 22 Oktober 2018

Stadion Tumpang begitu gegap gempita oleh banyaknya pelajar dan tokoh masyarakat yang berjumlah kurang lebih 3000 peserta serta ditambah perangkat Desa dan Muspika Kecamatan Tumpang.  Pembacaan Resolosi Jihat oleh KH.Miftakul Munir yang intinya mengajak para santriawan dan santri wati untuk berani berkorban demi negara dan Bangsa utamanya untuk menjaga keutuhan NKRI.

Upacara di mulai sejak jam 8’00  Wib, Pengibaran Bendera Merah Putih oleh Paskibra SMA Diponegoro Tumpang, sedangkan selaku Pembina Upacara ,KH. MiftakulMunir, S.Pi. undangan yang hadir lengkap UPT Kecamatan Tumpang, Kepala Desa serta  Camat Tumpang ( Sugeng Prayitno, S.Sos ), Kapolsek Tumpang AKP. Yusuf Suryadi, Dan Ramil Tumpang Kapten Kav Sunardi. Peserta apel terdiri dari 10 kompi diantaranya yang hadir , Kompi Ansor, Kompi Banon Fatayat NU Tumpang, Kompi IPNU, Kompi IPPNU, Kompi santriawan dan santri wati M.TS dan juga kelompok panduan swara dari IPNU.

Sesuai dengan thema hari santri BERSAMA SANTRI DAMAILAH NEGRIKU , maka dengan kesempatan tersebut peserta yang rata-rata dari kalanganpelajar diberikan wawasan kebangsaan serta membangkitkan semangat santriawan dan santri wati yang hadir tentang bela bangsa , loyalitas terhadap Bangsa dan Negara dimana tujuannya untuk menjaga keutuhan NKRI, ketika Pembina Upacara mengucapkan NKRI para peserta dengan mengepalkan tanganya keatas ” Harga Mati”.

 

0 56

Ke-ikut sertaan Kirab budaya di Jalur Lintas Selatan ( JLS) Kecamatan Tumpang pada hari Sabtu 29 September 2018 ,  meskipun tidak wah dalam penampilan tapi sangat bermakna. Acara kirab yang melibatkan pelajar, Perangkat Desa, K. UPT serta Kepala Desa sekecamatan Tumpang tampil pada nomor urut 62, sehingga star sudah mulai gelap. Lampu warna warni yang dipasang pada kendaraan kirab terlihat semakin hidup.
Pada saat dimana masyarakat mulai resah dengan jati diri dan paham thema Kecamatan Tumpang BHINEKA TUNGGAL IKA, sangat tepat dan juga bermakna mendidik.  Seratus penari bepakaian adat dimana dipandu oleh Delapan penari yang berpakaian adat berbeda menunjukan bahwa kita dapat hidup berdampingan tanpa harus adanya gesekan perbedaan ras suku dan agama serta golongan. Candi jajagu yang diusung sebagai maskot  merupakan pertanda bahwa tumpang melestarikan budaya ( kearipan lokal ), keterlibatan pelajar, perangkat, Kepala Desa pertanda bahwa Kecamatan kompak, bersatu antara pimpinan dan bawahan. bukan biaya yang besar tapi makna apa yang akan kita usung ujar Camat Tumpang ( Sugeng Prayitno, S.Sos )